Sunday, June 24, 2012

Pujangga

Cr to the owner

Selama ini saya selalu meyakini bahwa di diri setiap orang akan selalu ada (minimal) satu sosok pujangga yang mendiami setiap tulisannya.

Mengapa saya bilang ‘minimal’?

Karena ada beberapa orang yang dengan sangat beruntung memiliki lebih dari satu pujangga. Orang-orang seperti ini biasanya tidak pernah kehabisan ide. Tulisannya indah dan terbaca mengalir. Cerdas dan tidak biasa. Selalu bikin saya iri.

Pujangga-pujannga ini tidaklah sama antara satu orang dengan yang lainnya. Mereka punya umur dan sifat yang berbeda-beda. Ada yang wanita, ada yang pria, ada yang sudah tua renta, ada pula yang masih balita. Tidak pernah sama.

Sebagian malah masih tertidur, sementara yang lain justru sedang semangat-semangatnya untuk bersyair.

Nah, untuk kali ini, saya akan bercerita tentang pujangga di dalam tulisan saya.

Ia berjenis kelamin perempuan. Masih muda. Dan sangat perasa. Satu menit ia bisa tertawa-tawa tanpa sebab, di detik berikutnya ia sanggup menuntun jemari saya untuk mengetik puisi bertemakan patah hati. Entahlah. Saya juga bingung maunya apa.

Sampai detik ini saya belum sempat berani memberi ia nama. Yang jelas ia adalah gadis yang sangat manis. Begitu feminin. Senang memakai gaun-gaun yang indah dan sangat membenci saya dalam satu hal. Warna rambutnya merah jambu, dan saya tidak pernah suka dengan warna yang satu itu. Agaknya ia sering ngambek karena saya benci dengan warna rambutnya. Pernah saya meminta ia untuk mengecat supaya jadi merah saja (ini warna kesukaan saya) dan ia malah mogok menulis selama beberapa hari.

Saya angkat tangan.

Gadis ini sudah bersama saya kurang lebih sejak saya kelas 2 SD. Hitunglah... 14 tahun. Tapi ia tidak pernah bertambah tua. Terakhir saya cek, pipinya masih bulat menggemaskan. Satu rona dengan warna rambutnya. Kulitnya masih semulus pantat bayi dan bibirnya masih kecil lucu seperti buah ceri yang baru masak. Mungkin ia adalah makhluk yang punya suntikan obat anti-aging super ampuh. Lain kali saya harus minta resep awet muda kalau begitu.

Berkebalikan dengan saya yang tidak suka hal-hal berbau wanita, ia begitu mencintai segala macam gaun penuh pita-pita  dan rok-rok yang cantik. Dengan motif bunga-bunga dan warna pastel yang lembut. Ia juga senang makan makanan manis seperti kue atau roti. Selain itu, ia juga suka nge-teh di pagi hari dan duduk diam menikmati hujan. Hobinya selain berkebun adalah memasak. Ia senang meracik teh kesukaannya sendiri dari kombinasi beberapa bunga dan rempah serta memanggang kue di minggu pagi (untuk hal yang satu ini ia benar-benar mengingatkan saya akan Diva, salah satu tokoh di buku Dee). Rumahnya mungil dan selalu dipenuhi harum pandan. Berlantai dua dengan dua tempat tidur, ruang tamu, ruang makan, dan dapur yang sangat menyenangkan. Berandanya menghadap sebuah kolam kecil yang berisi beberapa ikan berwarna merah (saya kurang tahu itu ikan apa -___- dan tidak cukup berani untuk menanyakannya). Dan ia senang melihat matahari terbit dan terbenam dari beranda kamar tidurnya di lantai dua.

Gadis ini pemimpi, pendongeng yang senang dengan dongeng-dongeng ber-penutup manis. Alasan mengapa terkadang tulisan saya bisa sangat ‘keji’ di akhirnya adalah karena campur tangan saya sendiri. Sebenarnya gadis ini sudah memberi tawaran ending lain yang yang lebih manusiawi, dan saya memilih yang malah tidak manusiawi sekalian. Haha. Biar bagaimanapun juga yang punya tangan kan saya :p

Orang-orang yang “menuduh” saya ini romantis, menye-menye dan tukang galau seharusnya menuduh gadis yang satu ini. Bukan saya. Celoteh mellow saya di Twitter itu kan ulah dia. Saya hanya bertugas mengetik saja v(-_-)v

Oiya, terpikir untuk menamai gadis ini Iris. Mirip nama saya ya? Tinggal minus ‘R’ saja.

Kalau nama saya dalam bahasa Jawa Kuno artinya ‘gerimis’, Iris ini dalam mitologi Yunani justru berarti Dewi Pelangi dan the messenger of the gods. Keren ya? Kata iridescence (atau kalau yang masih ingat jadi salah satu judul lagunya Linkin Park juga, OST Transformers) yang artinya ‘permainan warna’ berasal dari nama Dewi Iris ini.

Nah, kalau begitu fix namanya ‘Iris’ saja. Cantik :)

Selain Iris, saya yakin ada banyak sekali pujangga-pujangga di luar sana yang masih belum punya nama. Atau mungkin malah tidak diperhatikan. Masih tertidur pulas dan tak pernah dibangunkan. Padahal, saya selalu yakin kalau semua orang pasti bisa menulis dengan baik. Karena semua orang juga pasti punya pujangganya masing-masing.

Maka dari itu, mulai dari sekarang, bangunkan pujanggamu, dan menulislah :)

2 comments: