Saturday, June 23, 2012

Celoteh Random di Siang Hari

Photo by Tina Sosna


Belakangan ini saya sedang kepikiran untuk bisa menggandakan diri. Kalau bisa men-triple-kuartet-kan sekalian.

Mengapa?

Entahlah. Saya rasa-rasanya kekurangan waktu dan tubuh dan tangan dan kaki. Dua puluh empat jam itu kurang cukup. Saya ingin melakukan banyak hal di banyak tempat dalam waktu yang bersamaan. Contohnya saja sekarang. Saya ingin menulis sekaligus nyetrika baju sambil pergi ke supermarket terdekat untuk membeli persediaan telur dan kopi, sekalian mungkin sambil tiduran membaca novel. Oiya, tidak lupa membaca buku panduan KKN bersampul biru yang belum pernah saya jamah itu dan memulai acara menyampuli semua buku yang ada di lemari dengan sampul plastik.

Banyak ya? Memang.

Sayangnya, saya hanya punya dua tangan, dua kaki, satu tubuh, dan satu ‘saya’. Untuk hal-hal semacam ini rasa-rasanya saya kok iri ya dengan amoeba dan planaria.

Ya Tuhan, ampuni makhluk-Mu yang kurang bersyukur ini.

Sebelum akhirnya memutuskan untuk memilih menulis diantara sejubel kegiatan lain yang ingin saya lakukan siang ini, kebetulan saya baru saja pulang makan siang dari warung rames sebelah kos. Menunya ada banyak. Saya memilih sayur nangka dan sayur terong beserta telur dadar karena kocek di kantong ternyata tidak banyak. Yah, penderitaan anak kos di akhir bulan.

Saya pulang dengan perut kenyang sambil menenteng satu plastik es susu coklat dan nasi bungkus untuk nanti malam. Kenapa belinya siang? Karena saya tahu, malam minggu seperti ini di dekat kos jarang ada warung makan murah yang buka. Dan saya juga cukup rendah hati untuk sadar kalau nanti malam tidak akan ada yang mau mengajak saya keluar malam mingguan. Jadi, lebih baik sedia payung sebelum badai. Saya sedang bosan makan mie instan malam-malam. Kemarin itu sudah malam kesekian perut saya diisi mie. Mengenaskan memang.

Ngomong-ngomong tentang sayur terong, saya jadi ingat Ibu. Kemarin waktu Bapak dan Ibu pulang kampung, beliau belum sempat masak apapun yang bisa saya makan. Ibu agaknya kecewa harus pulang ke Kalimantan lagi sebelum sempat memasakkan saya apa-apa. Dulu, saya bilang, saya ingin sekali dimasakkan sayur sop yang ada ceker ayamnya. Siang ini, tiba-tiba saya ingin sekali makan sayur terong bikinan Ibu.

Mungkin, nanti malam saya akan menelepon Ibu dan bilang saya ingin dimasakkan sayur terong. Jadi Ibu bisa langsung memasakkannya dan mengirimkan satu rantang via SMS. Haha.

Waktu mengetik tulisan ini saya sedang duduk membelakangi jendela dan menghadap pintu kamar yang tertutup. Dari sini saya bisa melihat dengan jelas betapa kamar saya sama randomnya dengan yang punya.

Ada banyak sekali baju di gantungan dan di kasur (astaga!). Lalu kasur yang tidak ada seprainya, dan lemari buku yang bahkan lebih besar dari lemari baju. Agaknya soal lemari-lemarian ini sudah cukup menjelaskan mengapa saya bisa SANGAT mengantuk kalau di toko pakaian dan melek selebar-lebarnya begitu masuk Gramedia. Ya, untuk saya, buku selama-lamanya berada di kasta yang lebih tinggi dari baju dan segala macam kroni-kroninya. Fashion? Wassalam.

Oiya, sebelum makan saya tersadar kalau saklar lampu di kamar saya bentuknya mirip muka koala minus mulut. Entahlah. Terlihat seperti itu saja di mata saya. Kapan-kapan saya akan menggambarkan ia mulut supaya terlihat lebih unyu.

Hari ini saya berhasil merampungkan novel setebal (kira-kira) 5 cm karangan Tere Liye. Judulnya ‘Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah’. Isinya mengisahkan tentang Borno, bujang berhati paling lurus sepanjang Kapuas, dan Mei, gadis peranakan Cina yang selalu terlihat sendu nan menawan. Setting-nya ada di Pontianak, namun deskripsinya malah mengingatkan tanah kelahiran saya di Banjarmasin. Apalagi soal sepit yang kerap dicantumkan di dalam novel ini. Saya langsung ingat kelotok dan pasar terapung.

Ngomong-ngomong tentang tokoh laki-lakinya, si Borno, saya begitu kagum dengan bujang yang satu ini. Agaknya deskripsi laki-laki idaman saya yang sudah saya cantumkan di tulisan ‘Tentang Saya’ itu sangat mirip dengan si Borno. Pria baik yang tidak neko-neko. Sederhana saja. Tapi manis. Itulah dia.

Aduhai, Bang. Andaikan saja kau itu nyata. Rela aku terbang ke Kalimantan lagi. Mari bertemu dan aku akan naik sepit nomor urut tiga belasmu tiap pukul tujuh lebih lima belas menit.

Beruntung nian Mei dicintai lelaki seperti Abang Borno. Kalau Tuhan punya stok kopian makhluk Adam-Nya yang mirip-mirip seperti si Borno ini, bolehlah aku mengantri untuk dapat satu. Sudi aku menunggu walau dapat nomer antri ke-seratus.

Sambil browsing, tadi saya iseng mencari tahu tentang The Hunger Games. Dulu, saya pikir ini semacam nama game di Facebook. Atau kalau tidak, nama game anyaran yang sedang ramai dimainkan. Tidak pernah sedikitpun saya terpikir kalau The Hunger Games itu judul buku apalagi film. Ya, sumpah serapahilah saya yang kuno ini.

Setelah tahu kalau The Hunger Games itu ternyata novel yang sudah diangkat jadi film layar lebar, saya pun kembali memprediksi, mereka-reka, mungkin buku ini ada kaitannya dengan bencana kelaparan atau semacam permainan yang menuntut kita untuk tidak makan setahun. Ternyata, tebakan saya meleset sejauh 360 derajat. 180 itu masih kurang.

Mungkin saya sudah bisa disamaratakan dengan makhluk gunung yang tinggal di gua. Apa guna ini modem dan laptop. Info kecil pun aku buta.

Saya masih punya banyak sekali novel yang belum terbaca tapi besoknya saya sudah beli buku yang baru lagi. Pemborosan memang. Tapi pasti saya baca kok. Entah kapan.

Ingin sekali saya usul ke pemerintah, Gramed itu sebaiknya tutup saja kalau saya lagi tidak punya uang. Bikin bangkrut. Alasan mengapa saya jadi deposit seperti ini karena ulah siapa lagi kalau bukan toko buku. Ah, bagaimana tempat yang sering kuanggap surga itu bisa berubah jadi momok yang menakutkan. Ya, setidaknya untuk dompet saya.

Terbersit keinginan untuk mulai nulis novel lagi. Ah, mungkin besok. Besok kalau saya sudah punya pacar (Astaga, kalau begitu, selamat menunggu sampai batas waktu yang infinit).

Bagi Anda yang sedari tadi bertanya, menerka, kasak kusuk ingin angkat tangan nyeletuk, “Maksud tulisan ini apa ya?” mohon segera scroll ke atas dan baca lagi judulnya.

Kalau begitu, sebelum dan sesudah, saya mohon pamit.

Wassalam.

Selamat berakhir pekan.





No comments:

Post a Comment