Thursday, February 20, 2014

Merekammu mengamatiku tertidur

Photo by Jenny Sun

Kau tentu tahu akan bagaimana takutnya aku pada ide-ide gila yang mengharuskan kita, aku lebih tepatnya, kelak, harus mau berbagi satu tempat tidur dengan seorang asing. Kamu.

Mengenakan selimut yang sama. Dan mendengar helaan nafas masing-masing di tengah malam yang sepi sambil berpura-pura mengelabuhi satu sama lain kalau kita sudah jatuh tertidur. Padahal tidak. Aku berbaring menghadap ke sisi kanan dan kamu ke sisi kiri. Tak ada obrolan. Kita hanya berpura-pura lelap.

Ah, betapa canggungnya esok ketika aku membuka mata dan yang pertama kali kulihat bukan guling, bantal, atau pun ruang kosong. Melainkan wajahmu. Kamu. Dan semua buntalan mimpi di atas kepalamu. Mungkin aku tak akan terbangun lebih dahulu. Mungkin aku akan tetap berbaring dalam posisi yang sama, dan memandangmu lama sampai kau membuka mata. Lalu kau tersenyum. Aku tersenyum. Dan kita saling mengucap "Selamat pagi" dengan suara parau dan rambut bak Medusa.

Kita biasanya mengobrol banyak sebelum benar-benar lelap. Kamu dengan urusan pekerjaanmu. Aku dengan urusan pekerjaanku. Atau kita akan berdiskusi tentang film apa yang layak ditonton Sabtu depan. Atau kita akan mengobrol tentang betapa banyak mimpi dan harap di masa muda yang tak sempat kita wujudkan.

Dan di antara ribuan pagi yang sudah dan akan kita lewati, mungkin akan ada satu, dua, atau puluhan pagi di antaranya saat kamu berhasil mendahuluiku menyapa matahari. Kamu berbaring menghadap kanan dan merebahkan kepala di atas lenganmu yang tertekuk. Melihatku lelap dengan muka berminyak dan mulut menganga, senyummu pun terbit lebih dulu dari matahari pagi itu. Kau mungkin akan menyingkap satu atau dua rambut yang jatuh di atas wajahku lalu kembali ke posisi yang sama. Begitu saja. Diam. Mengamati. Sampai aku menyusulmu membuka mata dan mengerutkan kening bingung melihatmu terbangun lebih dulu. 

"Selamat pagi, kesayanganku," sapamu. Disusul sebuah kecupan singkat di bibir yang membuatku kaget. "Hari ini bolos kerja, yuk! Aku pengin ngajak istriku kencan." Kamu tersenyum.

Dan demi Tuhan, di mataku, senyummu terlihat seribu kali lipat lebih manis dari gula-gula di planet manapun. 

*