Monday, January 21, 2013

Harga Sebuah 21

Photo by Nirrimi

Belajar jadi dewasa itu mudah. Asal mau. Contohnya gampang. Tau mana-mana yang harus di-share di dunia maya, dan mana-mana yang pantas disimpan sendiri.
Aku yakin dirimu pun butuh privasi, sayang.
Jangan buat masalahmu jadi drama untuk mereka yang tak mengerti. 

*

Dua hari yang lalu, tepat tanggal 19, saya baru saja mengurangi satu angka lagi untuk jatah saya hidup dengan memecahkan telur setelah angka dua dan menggantinya dengan bilangan pertama. Ribet? Haha. Saya sudah resmi 21. Intinya gitu sih. Angka yang sudah sebagian besar teman-teman seangkatan saya lewati tapi baru saya cicipi kemarin lusa. Nggak ada yang istimewa sebenarnya. Bertambahnya umur nyatanya bukan jaminan bahwa saya akan langsung berubah drastis jadi lebih rajin dan semacamnya. Korelasi di antara penurunan kurva tingkat kemalasan dengan bertambahnya angka di bilangan umurmu tampaknya tidak begitu signifikan terlihat. Mmm, atau mungkin hanya saya saja yang begitu?

Ngomong-ngomong tentang 21, saya menyambut umur yang baru ini dengan hari-hari yang begitu sibuk. Oh, dan juga sendirian. Itu pun kalau hujan dan Tuhan tidak saya hitung. Pasalnya semua teman-teman saya pulang. Dan saya harus berkutat di depan laptop nyaris seharian penuh. Mata sampai penat dan punggung rasanya melengkung masuk. Capeeeek sekali. Tapi alhamdulillah. Lelah ini pun ada karena setumpuk rasa percaya yang dititipkan orang-orang kepada saya. Untuk apa mengeluh kalau ujung-ujungnya malah memberatkan pikiran dan hati? Hidup saya sudah cukup sulit tanpa harus banyak protes. Pandai-pandailah memilah mana yang penting untuk dipikir dan mana yang tidak. Kalau cuma karena hal-hal sepele saja kita dimudahkan untuk bersedih, pantaskah keesokan hari kita diuji dengan kebahagiaan yang begitu besar?

Sore tadi salah seorang teman bercerita tentang teman SMA-nya yang baru putus dengan laki-laki yang –selama ini—ia anggap ‘serius’ dalam berhubungan. Lewat cerita ini, saya diam-diam merenung. Dan sadar. Betapa besar harga kata “serius” ketika umurmu sudah beranjak ke kepala dua.

Rata-rata teman sepermainan saya, di umur segini, jarang yang ingin menjalin hubungan dengan seseorang atas dasar “ingin main-main saja”. Kami pikir, kami sudah terlalu tua untuk hal-hal semacam itu. Waktu akan selalu terus berjalan. Dan kami tidak bertambah muda setiap harinya. Rasa-rasanya riskan untuk membuang-buang waktu dengan orang yang sudah kamu sadari sejak awal, bersamanya, tidak akan pernah ada masa depan. Belajarlah untuk hidup dengan tujuan. Sesepele apa pun itu.

Umur dua puluhan bagi sebagian orang mungkin bukan umur yang pantas dibilang tua (asal ngeliatnya nggak dari sudut pandang remaja ababil aja). Namun teman-teman saya, dan bahkan saya sendiri, mulai merasa bahwa beberapa tanggung jawab rasanya mulai sedikit demi sedikit dibebankan ke atas pundak. Saya pribadi mulai memikirkan beberapa tuntutan yang harus segera saya selesaikan di awal umur 20-an. Seperti misal; tuntutan untuk segera lulus kuliah. Dan setelah hal ini beres, akan ada banyak sekali tuntutan-tuntutan lain yang datang dan entah mampu saya selesaikan dengan baik atau tidak.

Umur dua puluhan ini rasa-rasanya pantas kalau saya ibaratkan sebagai hutan. Kamu tahu hutan? Di hutan segala macam marabahaya dan kejutan ada. Begitu pula dengan surga mini. Atau sekumpulan pemandangan-pemandangan cantik. Namun di hutan, aturan manusia kadang tak berlaku. Kamu yang harus tunduk dengan hukum alam. Ibaratkanlah kami-kami yang baru lepas dari kungkungan umur belasan ini sebagai manusia-manusia awam yang dilepas sendiri ke belantara hutan yang tak di kenal. Dalam kasus ini, masyarakat adalah belantara hutannya. Kami, manusia-manusia awam yang masih merah berumur dua puluhan, yang dulunya mungkin masih bisa manja dan berlindung di balik ketiak orang tua, kali ini harus mampu mengangkat dagunya sendiri untuk hidup. Sementara hutan, ia tak pernah punya cerita tentang orang-orang manja dalam buku sejarahnya.

Yang mampu tinggal dengan baik di dalam hutan adalah mereka-mereka yang tidak mudah menyerah dan pandai bersyukur. Tahukah kamu? Di hutan, makan ikan setengah matang yang dibakar asal pun sudah nikmat tiada tara. Gunakan kemampuan bersyukurmu di sini. Kalau kamu masih ingin mengeluh karena makanan seperti itu tidak layak dan ingin segera pulang untuk makan-makanan enak, maka kembalilah ke ketiak orang tuamu. Hutan tidak pernah butuh orang-orang macam begini.

Umur dua puluhan bisa jadi boomerang kalau tidak digunakan dengan baik dan seksama. Karena, katanya, apa-apa yang kamu lakukan di umur dua puluhan adalah apa-apa yang akan kamu panen ketika tua.

Lihat. Betapa krusialnya umur yang tengah saya pijak.

Beranjak dewasa juga berarti belajar untuk mengabaikan beberapa hal kecil yang tidak perlu. Karena terkadang hal-hal kecil ini kalau terus-menerus dipikir justru akan menimbulkan keluhan-keluhan. Dan apa yang akan kamu dapat dari mengeluh? Tidak ada. Cuma kepala pening dan hati yang sering sakit-sakitan. Enak? Tidak.

Saya mungkin awam dalam hal-hal seperti cinta dan hubungan di dalamnya. Saya tidak pernah pacaran dan saya tidak paham bagaimana riweuh-nya. Namun di umur yang sudah ‘setua’ ini, menurut saya, rasa-rasanya agak nggak etis kalau masih meributkan siapa yang nanyain kabar siapa, siapa yang kangen duluan, melarang ini itu karena takut si pasangan selingkuh, dan masih hobi meributkan tentang status.

Mari teliti masalah ini dari sudut pandang orang awam (dan sok tahu) macam saya.

Ribut karena kamu yang harus nanyain kabar duluan? Dan sedih karena kayaknya kok dia nggak peduli ya apa saya sehat atau nggak? Hmm. Pentingkah yang semacam ini? Beberapa mungkin berpendapat bahwa, kalau hal-hal sekecil ini saja dia nggak perhatian, gimana yang lain? Saya pikir kalau dia masih bersedia meminjamkan kuping untuk mendengar celotehmu, mengantarmu berbelanja, menemanimu main futsal, menanyakan bagaimana kabar UAS-mu dan semacamnya, perkara siapa yang menanyakan kabar siapa lebih dulu rasa-rasanya jadi kurang penting. 

Meminjamkan telinga bukan hal yang mudah dilakukan kalau kamu tidak suka dengan yang bercerita. Coba bayangkan kalau kamu harus mendengar orang yang tidak kamu sukai nyerocos tentang hal-hal yang kurang penting seperti bagaimana sebalnya ia karena batal bertemu dosen pembimbing atau sedih karena di kosan sendirian? Sudikah kamu meminjamkan telinga untuknya? Kecil kemungkinan. Kesediaan pasanganmu untuk berkomentar tentang kegiatanmu sehari-hari pun sudah sepantasnya kamu hargai. Itu artinya dia masih ingin tahu bagaimana hari-harimu berjalan. Senangkah? Atau kamu punya masalah? Bukankah itu yang disebut perhatian? Tidak perlu bertanya kabar pun tak apa. Menurut saya.

Saya pikir di antara orang-orang yang dekat, mereka punya semacam radar untuk mengetahui apakah yang satu sedang sehat dan gembira atau tidak. Kalau kamu sedang sedih dan dia terlihat tidak menyadarinya, lantas kamu ngambek karena dia tidak perhatian bahkan untuk menanyakan kabar setelah melihat matamu yang sembab, anggaplah bahwa ia percaya kalau kamu masih cukup kuat untuk menghadapi masalahmu sendiri. Mungkin ia berpendapat, kalau kamu butuh bantuan, kamu akan bercerita, kamu akan meminta sendiri bantuannya kalau kamu butuh. Kamu tidak ingin kan dianggap anak kecil yang ini itu harus ditawarin? Tentunya pasanganmu yakin, kamu adalah pribadi yang sudah cukup dewasa untuk memilah mana yang pantas untuk dibagi dan mana yang bukan. Ibu Ainun yang begitu dicintai laki-laki sehebat Pak Habibie itu juga bukan wanita yang mudah merengek. Laki-laki yang hebat butuh perempuan yang lebih hebat dan kuat darinya. Tunjukkan kalau kamu bukan perempuan lemah yang mudah merengek untuk hal-hal yang sepele. Berusahalah sebisamu untuk berpikiran positif. Sulit memang. Namun sulit bukan berarti tak bisa.

Ribut tentang siapa yang kangen duluan? Hmm. Saran saya sih, carilah hal-hal yang lebih bermutu untuk diributkan. Tidak bilang kangen bukan berarti tidak kangen, kan? Dua hal tadi beda jauh lho. Untuk beberapa orang, mengatakan hal seperti rindu dan cinta bukan hal yang mudah. Saya masuk ke dalam kategori itu. Kalau dia pasanganmu, saya rasa sikap sudah cukup menjelaskan kok. Kalau dia minta bertemu atau terus menerus berusaha untuk menghubungimu, mungkin dia sedang rindu. Siapa yang tahu kan? Saya jadi ingat apa yang ibu saya sering katakan, “Kamu itu sudah besar. Jangan apa-apa mesti dikasih tau dulu baru ngerti.”
 
Kalau sudah suami-istri, saya nggak akan protes kalau kamu mau larang-larang pasangan kamu untuk hal-hal yang mungkin tidak mengenakkan hati. Masalahnya kalian sudah berkeluarga. Dan akan begitu banyak buntut yang ikut tersakiti kalau kalian tidak berhati-hati dalam menjaga hubungan yang sudah ada. Tapi kalau pacaran? Saya tidak bilang kalau pacaran itu hubungan yang tidak penting untuk dipertahankan. Itu sih kembali ke pendapat masing-masing individu saja. Saya cuma kurang setuju kalau dalam hubungan yang sedini ini (ya, saya menganggap pacaran adalah hubungan yang sama dininya dengan pertemanan) lantas satu orang merasa punya hak untuk melarang orang yang lain melakukan sesuatu, terutama karena “sesuatu” tadi nggak ngenakin buat dia pribadi. Hei, bukankah pondasi kalian menjalin hubungan ini adalah salah satunya atas dasar rasa percaya? Kalau melepas pasanganmu untuk melakukan hal yang baik namun agak berat di kamu saja kamu sudah was-was tidak karuan, bukankah ini sama saja sudah melukai hatinya dengan rasa tidak percayamu? Kamu meragukan kesetiaannya secara tidak langsung. 

Rasa was-was tentu tak bisa dihindari. Siapa yang bisa menghindari rasa takut? Tak ada. Perasaan seperti itu muncul begitu saja. Di luar kontrol. Namun “melarang” juga tidak begitu perlu asalkan hal-hal yang  ia lakukan masih dalam jalur yang baik. Lain soal kalau pasanganmu adalah pecandu narkoba dan semacamnya. Kalau misal kamu melarang cowokmu untuk berhubungan dengan teman ceweknya hanya karena kamu cemburu dan khawatir cowokmu akan selingkuh, bukankah itu hanya akan menunjukkan kalau kamu tidak cukup dewasa? Tidak cukup pandai untuk mengatur bahkan egomu sendiri? Belajarlah untuk memilah kekhawatiran mana yang patut kamu tunjukkan ke pasanganmu dan mana yang tidak perlu. Kalau pun esok lusa pasanganmu ternyata benar-benar selingkuh, bersyukurlah karena kamu telah ditunjukkan laki-laki seperti apa dia. Kamu tentu tak ingin kan, menghadiahi anak-anakmu kelak seorang bapak yang tidak mampu bertanggung jawab dengan rasa setianya sendiri? 

Dan untuk urusan status, saya pikir ini adalah hal yang sangat arguable. Masing-masing orang punya pendapat. Banyak yang tidak suka terkungkung dengan hubungan tanpa status, karena mungkin esoknya bingung, saya dianggep apa sih sebenernya? Saya berhak cemburu nggak? Besok lusanya kita trus gimana? And so on, and so on, and so on. Kalau dibiarkan, akan banyak sekali tanda tanya-tanda tanya yang hadir dan mungkin malah bikin galau. 

Tadi sore, teman saya bercerita tentang salah satu temannya yang sedang melakukan hubungan tanpa label. Temennya temen saya ini dan si cowok sama-sama nyaman, namun tidak meletakkan status apa pun untuk menamai hubungan tersebut. Katanya sih, asalkan nyaman, buat apa sih nuntut-nuntut status? Kalau emang udah yakin sama yang ini, buat apa juga lirak-lirik yang lain? Ini tergantung orangnya juga sih. Kecenderungan seseorang untuk selingkuh kan beda-beda. 

Pertemuan-pertemuan mereka pun cukup diwarnai dengan cerita tentang kegiatan sehari-hari atau tentang progress kuliah dan sejenisnya. Menurut temennnya temen saya ini sih, udah nggak jaman lagi kalo ketemu terus sayang-sayangan, bertukar rayu, dan pegang-pegangan nggak mutu. Yah, saya pribadi sebenarnya setuju sih. Daripada nambah dosa, mending nambah ilmu. Tukar cerita bisa nambah ilmu juga kan? 

Karena saya berpegang pada prinsip agama yang saya anut, yaitu Islam, hubungan tak berstatus milik temennya temen saya ini malah bagus menurut saya. Dengan begini, mereka jadi tidak merasa punya hak untuk melakukan hubungan fisik yang lebih, karena mereka pada dasarnya bukan siapa-siapa. Banyak anak muda jaman sekarang yang merasa “dibolehkan” untuk melakukan hal-hal seperti ciuman dan atau bahkan hubungan badan hanya karena status “pacaran” tadi. Dan ini sangat riskan. Ya, kalau masing-masing dari mereka punya kontrol nafsu yang cukup baik, lha kalau tidak? Kalau kebablasan kan bahaya.

Biar bagaimanapun, mencegah bukankah akan selalu lebih baik daripada mengobati? Tapi kalau pun kamu tidak setuju, dan menganggap hubungan tanpa status itu adalah a big no no, itu kembali ke kamu. Kalau yang kamu takutkan adalah hati yang akan sakit ketika si pasangan-tanpa-status ini ujung-ujungnya berpindah hati dan tidak dijodohkan dengan mu, kembalilah pada apa yang William Shakespeare katakan di masa lampau, “Expectation is the root of all heartache.” Jangan biarkan harapanmu digantung begitu tinggi pada apa-apa yang diciptakan fana. Apalagi kepada makhluk sekecil manusia.

Kalau setelah membaca ini lantas kamu berpendapat bahwa “Hei, kamu belum pernah pacaran! Kamu tidak tahu gimana rasanya khawatir dan rindu yang kami rasakan!” dan lalu menyumpah-serapahi saya yang sok tahu ini, silakan. Tak ada yang melarang. Terakhir yang saya ingat, Republik Indonesia masih menjunjung tinggi asas demokrasi. Kamu boleh berpendapat semaumu. Saya pun demikian. 

Apa-apa yang saya tulis sama sekali tidak ada niatan untuk menggurui siapa pun. Saya pun masih belajar. Tulisan ini sejujurnya adalah pengingat untuk saya sendiri. Semacam guru yang saya buat untuk mengingatkan dan mengoreksi kalau saya lupa. 

Hufft. Berat ya harga sebuah 21? Untuk sampai di umur ini pun sebenarnya tak mudah. Namun berjalan untuk melewatinya dengan baik juga bukan pekerjaan yang gampang. 

Kalau sudah “tua” begini, temukanlah cinta yang tak hanya baik untuk satu, namun mampu memperbaiki keduanya. Temukan cinta yang tak pernah membiarkanmu berjuang sendiri. Dan kalau kamu merasa kamu tak berubah menjadi lebih baik karenanya, pasti ada yang salah dalam hubunganmu. Temukan yang rusak lalu perbaiki bersama. Jika memang tak mampu, tinggalkan dengan ikhlas. Kamu tahu kan, rencana-Nya selalu lebih baik dari kepunyaanmu?

No comments:

Post a Comment