Monday, November 26, 2012

Masa Bodoh



Saya pikir yang membedakan buku Dee dengan buku-buku lain yang pernah saya baca adalah bagaimana dampaknya terhadap jalan berpikir saya ketika sedang atau setelah membaca bukunya. Membaca tulisannya, membuat saya berpikir tentang hidup lebih banyak, lebih sering, dan lebih intens. Tulisannya menantang saya lebih dalam untuk berpikir tentang Ketuhanan, eksistansi manusia, dan eksistansi saya sendiri. Saya yakin setiap orang punya reaksi yang berbeda-beda terhadap setiap buku dan pengarangnya. Namun entahlah, reaksi seperti itu yang justru muncul tiap kali mata saya tertumbuk kata-kata di buku Dee. Ada keintiman yang samar di antara sel-sel kelabu saya dan ide-idenya. Mungkin itu juga yang membuat mata saya menolak terpejam sampai pukul setengah empat dini hari hanya karena memikirkan tentang satu hal; hidup.

Sepanjang saya ada, yang bisa dihargai cukup singkat, sekitar dua puluh tahun lebih beberapa bulan, saya belum pernah merasa se-nerima ini terhadap kuasa-Nya. Pasrah sekali. Seolah-olah apa pun yang Ia lakukan mungkin hanya mampu saya tanggapi dengan hembusan nafas berat dan tameng kesabaran yang lebih tebal. Dan perasaan “nerima” yang sekonyong-konyong hadir ini, kemudian dikukuhkan ketika semangat membaca saya tumbuh tanpa tedeng aling-aling. Dan menuntun tangan saya untuk menarik buku ketiga yang ada di tumpukan rak. Buku ke-tiga. Bukan pertama. Padahal buku yang ada di tumpukan atas pun belum saya baca. Karangan Ayu Utami. Baru. Lebih gress dari buku Dee manapun. Tapi entahlah. Tangan saya justru mengarah ke buku ke-tiga. Partikel. Lanjutan “Petir” yang sudah saya ceritakan sebelumnya sebagai buku ‘refreshing’ seusai membaca “Cantik Itu Luka”. Dan saya yakin, ini juga bukan kebetulan. Kenapa saya menarik buku ini, kenapa saya malah menyeduh kopi dan bukan menarik selimut, semuanya, mereka bukan sekedar kebetulan semata. Dan dipikir-pikir, kalau saya malah menolak untuk tetap membuka mata dan memaksa tidur, yang ada mungkin saya bakal tindihan. Kenapa? Karena saya tahu otak saya lagi muter sekenceng-kencengnya. Dia nggak bakal diam walaupun tubuh saya notabene memerintah untuk istirahat. Tidak bisa. Dia memang hiperaktif kalau malam, dan hibernasi begitu Subuh datang. Kadang saya benci sistem kerjanya, tapi malam ini alasannya lain. Dia diusik. Rujinya diberi pelumas top. Mesin-mesin dalam sel-sel kelabu saya dibangunkan. Keduanya. Bukan hanya yang kanan, yang sudah sering kerja karena hobi saya yang lebih banyak mengandalkan kemampuannya, tapi juga yang kiri. Yang sering saya suruh tidur dan tidak usah ikut campur semenjak Matematika dan Ilmu Alam dicoret dua kali lalu diberi Tipe-X dalam sejarah dunia sastra. Dadah babay untuk logika.

Ini bukan sekali-dua kali saya dibiarkan telentang di kasur, menatap langit-langit, dan diam, kalut, mikir, semua gara-gara buku Dee. Perlu diulang kembali, ini bukan sekali-dua kali. Saya pikir, kebutuhan membaca yang sekedar membaca sekarang sudah bukan jamannya lagi. Saya, harus menarik sesuatu dari apa yang saya baca. Apa pun. Sekalipun itu cuma pertanyaan, bukan jawaban apalagi konklusi. Yang jelas, saya harus dapat sesuatu. Apa pun yang membuat saya tidak rugi karena sudah meluangkan waktu berjam-jam untuk membaca buku tersebut. Mungkin kinerja otak saya agak lambat ya, seharusnya saya sudah bisa mikir dari dulu kalau baca buku itu ya harus diresapi isinya. Tapi nyatanya saya memang agak terlambat untuk paham. Kemarin, dan kemarin kemarinnya lagi, bagi saya, membaca itu hiburan. Kalau ada pelajarannya ya ambil, kalau kosong ya lupakan. Tapi untuk kali ini, saya menerapkan aturan lain.

Entah berasal dari bagian buku yang mana, atau dari part apa, namun 1/3 “Partikel” ini mengajarkan saya akan satu hal. Pasrah. (Ini saya baru baca sepertiga dan pemikiran-pemikiran penuh cabang sudah muncul tak terkendali. Saya bisa jamin setelah baca 2/3 atau seluruhnya, saya pasti bakal nulis lagi tentang sesuatu. Entah apa.)

Seseorang memang benar adanya telah mengajari saya prinsip dasar pasrah yang bisa dilakukan seorang manusia (biasanya) ambisius seperti saya. Itu pun karena saya yang minta diajari. Bukan karena dia yang merasa sok-paham sudah jadi orang paling pasrah sedunia dan kemudian belagak menggurui. Tapi bahkan cara pembelajaran kami di sini pun sifatnya tertutup-satu-pihak. Yang intinya, pihak lain tidak tahu kalau pihak satunya sedang melakukan “pembelajaran”. Saya meniru. Saya menelaah sikap manusia yang satu ini dan kemudian menganalisisnya. Sampai kemudian pada tahap saya cukup berani untuk mengaplikasikan apa yang sudah saya analisis dan mulai praktek sungguhan di dunia nyata. Saya coba untuk bersikap nerima senerima-nerimanya terhadap hidup. Dan dari ini, saya mendapat pembelajaran lain. Mengontrol diri.

Manusia itu kadang lucu. Sistem defense mereka juga. Secara langsung atau tidak langsung, sebenarnya manusia tidak ada yang bisa bergantung kepada siapa pun. Kita semua sendiri. Benar-benar sendirian saja. Sayangnya hidup ini kelewat luas. Luas sekali. Dan secara naluri kita butuh teman, pasangan, atau apa pun itu untuk mengarunginya. Namun jauh di luar itu semua, sebenarnya kita ini terprogram cuma untuk satu hal. Saling menyakiti. Itu saja.

Mungkin karena sudah capek mikir yang rumit-rumit, saya sekarang cenderung memilih masa bodoh dan tertutup. People change. Itu fakta. Dan dari itu juga perubahan saya berbasis. Saya ingin hidup di luar lingkaran saja. Menonton mereka yang saling menyakiti sambil makan popcorn dengan tenang. Memilih satu-dua teman untuk (cukup) dipercaya, dan ikut kumpul-kumpul tertawa dengan sisanya. Selepas itu? Pulang. Kembali lagi ke diri saya sendiri dan dunianya yang tidak perlu banyak orang tahu.

Kadang sebagian orang tidak cukup mengerti bahwa pengaruh kata-kata itu besar adanya. Ia sanggup menyakiti manusia lebih parah dari parang manapun, dan membahagiakan manusia lain lebih lebih dari diberi lotere berhadiah apa saja. Semua, hanya dengan kata-kata. Dan bahayanya, setiap manusia yang hidup dan bernafas, memegang senjata ampuh ini sendiri-sendiri di mulutnya. Atau di tangannya. Dan tak ada yang peduli akan betapa tajam senjata mereka kalau tidak dipilih secara hati-hati. Namun, beberapa orang memang masih belum cukup pandai untuk menyadari kalau setiap menit pun mereka bawa granat. Dan parahnya, masih saja ada yang suka lempar-lempar granat semaunya, baik sengaja ataupun tidak. Seolah-olah perasaan semua manusia itu terbuat dari batu atau lempeng baja yang sama. Tidak apa-apa kalau dinyiyiri, dicaci, atau dipermainkan sesuka hati.

Oh, manusia. Adakah makhluk yang lebih kejam dari kita?

Namun kemudian saya memilih kembali. Belajar pasrah (atau lebih tepatnya ‘masa bodoh’) dan mengontrol diri. Mendaur ulang emosi yang ingin dituliskan di situs jejaring sosial mana pun dan kemudian menelannya bulat-bulat. Sendiri. Biar apa yang saya rasa cuma saya dan Tuhan saja yang tahu. Kehadiran sosok ketiga, keempat, dan kelima malah kadang memperunyam masalah. Nggak tahu apa-apa lalu asal tuding. Itulah manusia. Selain kejam, mereka pun acap kali sok tahu dan tukang komentar tidak perlu. Saya sekarang memilih untuk jadi manusia baru saja di dunia maya. Nggak usah terlalu jujur. Toh siapa yang peduli kalau kamu sedang patah hati atau ingin bunuh diri? Jatuh hati atau diselingkuhi? Empati cuma bertahan satu sampai seminggu, setelahnya mungkin kamu akan dinilai tukang nyampah dan drama queen. Ya itu manusia. Satu sisi  bisa kasihan, sisi lainnya gampang bosenan.

Sekarang kalau manusia-manusia itu berniat untuk saling bacok-bacokan dengan senjata di mulut dan tangan masing-masing, ya monggo. Saya cuma bisa senyum dan kasih jalan. Hidup ini sudah memikul beban pencarian yang terlalu berat. Nggak usahlah ditambah dengan masalah lain yang saya sendiri pun tak paham ujung pangkalnya untuk dikomentari. Satu-satunya hal yang paling bikin saya jengkel adalah diabaikan. Dan bahkan sekarang saya pun sudah pandai acuh ketika diabaikan. Ya, abaikan saja. Saya bakal senyum lagi dan kasih jalan lalu pulang.

Saya tahu, sikap ini sebenarnya bukan pasrah, hmm, mungkin pasrah di beberapa persen untuk minoritas, namun lebih tepat dibilang masa bodoh untuk mayoritasnya. Ya sudahlah. Sebut apa saja yang kalian mau, yang terlintas pertama di pikiran, apa pun. Saya juga nggak ambil pusing.

Hidup ini, ia, mengalir ke satu arah. Dan saya belum tahu ke arah mana pencarian saya nanti bermuara. Selagi saya mencari yang saya sendiri tidak tahu apa, maka saya akan ikut mengalir saja bersamanya. Nggak usah terlalu ngoyo, tapi tetap ada target. Manusia-manusia lain itu juga sedang dalam pencariannya masing-masing. Sama-sama bingungnya seperti saya. Tapi pengalaman mengajarkan saya untuk tidak terlalu larut dengan segala label euforia ala homo sapiens, pun mempercayai mereka terlalu dalam. Ya, makhluk jenis ini senang sekali menaruh label pada apa pun dan kemudian bertingkah sebagai pemilik. Hah, betapa lucunya. Mereka juga mudah perhatian dan lalu abai. Cinta kemudian benci. Senang sekali salah paham dan sok benar. Kacang yang lupa kulit. Tapi ya sudahlah. Manusia memang joker terhebat sepanjang jaman. Kalau mereka ngelawak, tertawakan saja. Itu cukup mengapresiasi. Dan mereka senang dianggap lucu. Begitulah.

**

Ini ocehan random banget di Subuh hari. Boleh pilih abaikan kok. Saya mau lanjut baca buku lagi kalau begitu. Selamat hari Senin.

No comments:

Post a Comment